Pakistan siap hadapi penyelidikan netral menghadapi serangan dalam Kashmir

Istanbul – Utama Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Hari Sabtu memaparkan bahwa Islamabad terbuka terhadap penyelidikan "netral" menghadapi serangan ke Kashmir yang mana dikelola India pada 22 April berikutnya yang tersebut menewaskan 26 orang, demikian dilaporkan penyiar lokal Geo News.
Sharif menyatakan keprihatinannya melawan "tuduhan tak berdasar" India pasca insiden Pahalgam, dengan menyatakan bahwa tuduhan yang dimaksud dibuat "tanpa penyelidikan yang digunakan kredibel atau bukti yang tersebut dapat diverifikasi.
"Pakistan terbuka untuk berpartisipasi di penyelidikan yang dimaksud netral lalu transparan berhadapan dengan serangan Pahalgam," kata Sharif pada waktu ketegangan antara kedua negara tetangga dengan senjata nuklir itu meningkat pasca serangan tersebut.
Perdana menteri itu juga mengeluarkan peringatan serius keras terhadap segala upaya untuk menghentikan atau mengalihkan jatah air Pakistan berdasarkan Perjanjian Perairan Indus, dengan menekankan bahwa air adalah "kepentingan nasional yang vital."
"Saya harus menyebutkan bahwa air adalah kepentingan nasional Pakistan yang mana vital — jalur keberadaan bagi 240 jt penduduk kami. Jangan ada keraguan sebanding sekali, bahwa ketersediaannya akan dijaga dengan segala cara dan juga di segala situasi," kata Sharif.
Sementara itu, pemerintah India menggambarkan insiden itu sebagai "serangan teror" dengan hubungan "lintas batas", dan juga menyalahkan Pakistan akibat mendukungnya.
Namun, Islamabad menyangkal terlibat di serangan itu, dengan mengungkapkan bahwa pihaknya "prihatin" dan juga menyampaikan belasungkawa terhadap keluarga korban.
India kemudian secara sepihak menangguhkan Perjanjian Perairan Indus yang sudah berusia puluhan tahun, di dalam mana kedua negara tetangga mengatur pembagian air dari enam sungai dalam Cekungan Indus.
Pakistan pada Kamis (25/4) menanggapi keras penangguhan sepihak yang dimaksud dengan mengingatkan bahwa setiap upaya India untuk mengalihkan atau menghentikan air ke Pakistan akan dianggap sebagai "tindakan perang."
Menurut Pakistan, tak ada ketentuan untuk menangguhkan secara sepihak perjanjian pembagian air, yang mana dimediasi oleh Bank Bumi juga ditandatangani pada September 1960 itu.
Kedua belah pihak juga menangguhkan visa untuk warga negara tiap-tiap juga mengusir penasihat militer, sementara Islamabad melakukan penutupan wilayah udaranya untuk maskapai penerbangan India.
Sumber: Anadolu
Artikel ini disadur dari Pakistan siap hadapi penyelidikan netral atas serangan di Kashmir






